PIGMEN FLAVONOID

Karena bersifat larut dalam air, maka aquades seringkali digunakan menjadi pelarut utama. Mahkota bunga yang berwarna merah, biru hingga keunguan umumnya mengandung pigmen antosianin, sedangkan yang bewarna kuning, kecoklatan mengandung pigmen antoxantin. Untuk pigmen antosianin menginginkan diekstrak dengan pelarut aquades atau alkohol 70-95 %, dan dikombinasikan dengan asam seperti HCl, asam sitrat atau asam asetat, dengan perbandingan 90-95 % aquades dan 5-10% asamnya agar lebih stabil sesuai dengan karakter pigmen antosianin.

Sedangkan bunga berwarna kuning-kecoklatan dapat mengadung pigmen antoxantin atau caroten. Jika antoxantin maka akan bersifat larut dalam air, atau diekstrak menggunakan asetil aseton, sedangkan caroten larut dalam pelarut organik seperti alkohol, aseton atau heksan.

Hasil penelitian Saati, dkk.(2007), menunjukkan bahwa pigmen antosianin pada beberapa mahkota bunga seperti mawar, kana dan turi merah bersifat stabil ( menampakkan warna merah muda, merah tua hingga keunguan) pada pH sekitar 1 – 11, sedangkan pigmen antoxantin pada bunga kana kuning (kecoklatan) relatif lebih stabil terhadap pemanasan (hingga suhu 100oC), pada kisaran pH 7-9 pigmen paling stabil. Sesuai dengan pendapat Hutchings (1994), bahwa antosianin dapat lebih stabil pada perlakuan asam dibandingkan pada perlakuan netral atau basa. Pada pH 1 sampai dengan pH 3 pigmen ini terlihat dalam bentuk ion oxonium merah, saat dalam bentuk terhidrasi antara pH 4 dan pH 7, maka warna yang terbentuk akan pudar. Saat pH lebih tinggi warna ungu akan terbentuk, tetapi bila ionisasi ini berkisar pada pH 10 akan berubah menjadi biru.

Flavonoid dikelompok dalam beberapa subklas yaitu:

· FLAVONOLS: Quercetin, Kaempferol, Myricetin, Isorhamnetin

· FLAVONES: Luteolin, Apigenin

· FLAVANONES: Hesperetin, Naringenin, Eriodictyol

· FLAVAN-3-OLS: (+)-Catechin, (+)-Gallocatechin, (-)-Epicatechin, (-)-Epigallocatechin, (-)-Epicatechin 3-gallate, (-)-Epigallocatechin 3-gallate, Theaflavin, Theaflavin 3-gallate, Theaflavin 3′-gallate, Theaflavin 3,3′ digallate, Thearubigins

· ANTHOCYANIDINS: Cyanidin, Delphinidin, Malvidin, Pelargonidin, Peonidin, Petunidin

Kandungan flavonoid pada beberapa produk alkohol (mg/100g)

· Alcoholic beverage, beer, regular

o Flavonols: Myricetin (0,05); Quercetin (0,05)

o Alcoholic beverage, wine, berry, colored

§ Flavonols: Kaempferol (0,03); Myricetin (0,72); Quercetin (0,63)

§ Alcoholic beverage, wine, berry, white

· Flavonols: Quercetin (0,20)

· Alcoholic beverage, wine, sherry

· Flavonols: Quercetin (0,01)

· Alcoholic beverage, wine, table, red

· Anthocyanidins: Cyanidin (0,27); Delphinidin (0,68); Malvidin (5,68); Peonidin (1,17); Petunidin (1,39).

· Flavan-3-ols: (-)-Epicatechin (4,29); (+)-Catechin (7,61)

· Flavonols: Isorhamnetin (0,02); Kaempferol (0,05); Myricetin (0,73); Quercetin (0,84)

· Alcoholic beverage, wine, table, white

· Anthocyanidins: Malvidin (0,06);

· Flavan-3-ols: (-)-Epicatechin (0,59); (+)-Catechin (0,79)

· Flavonols: Kaempferol (0,01); Myricetin (0,01); Quercetin (0,04)

Kandungan flavonoid pada beberapa produk apel (mg/100g)

· Apple cider (European)

· Flavan-3-ols: (-)-Epicatechin (0,62); (+)-Catechin (4,87);

· Flavonols: Quercetin (0,48)

· Apple juice, canned or bottled, unsweetened, without added ascorbic acid

· Flavan-3-ols: (-)-Epicatechin (0,62); (+)-Catechin (0,12)

· Flavonols: Myricetin (0,05); Quercetin (0,34)

· Apples, raw, with skin

· Flavan-3-ols: (-)-Epicatechin (8,14); (+)-Catechin (0,95)

· Flavonols: Quercetin (4,42)

· Apples, raw, without skin

· Flavan-3-ols: (-)-Epicatechin (6,23); (+)-Catechin (0,86)

· Flavonols: Quercetin (1,50);

· Applesauce, canned, unsweetened, without added ascorbic acid

· Flavan-3-ols: (-)-Epicatechin (5,41); (+)-Catechin (0,69)

· Flavonols: Quercetin (2,00)

Iklan

Produksi Kitosan Secara Fermentasi

Kitosan adalah biopolymer alami dan dapat dirombah secara biologis. Kitosan dan turunannya dapat digunakan untuk berbagai keperluan dalam bidang medis, pangan ataupun lingkungan.

Kitosan secara komersial dihasilkan dari udang dan kepiting dengan melakukan deasetilasi kitin menggunakan alkali kuat pada suhu tinggi dalam waktu lama. Penggunaan limba udang dan kepiting ini disatu sisi memeberi keuntungan karena dapat mengurangi limbah perikanan. Namun disis lain produksi kitosan menjadi sangat tergantung dari keberadaan industry udang dan kepiting. Oleh sebab itu perlu dipikirkan untuk produksi kitosan secara langsung. Salad satu cara adalah produksi kitosan secara fermentasi menggunakan jamur. Dinding sel dan septa dari Ascomycetes, Zygomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes terutama mengandung kitin. Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dengan cepat pada nutrisi sederhana dan kitosan dinding sel mudah dipanen.

Jamur yang dapat digunakan untuk produksi kitosan adalah Aspergillus niger, Rhizopus oryzae, Lenthinus edodes, Pleurotus sajo-caju,Absidia dan Mucor sedang khamir yang dpat dipakai adalah Zygomyces rouxii, dan Candida albicans. Hasil paling baik diperoleh dari Rhizopus. Anda tertarik mengembangkannya?

RAGI TAPE

Starter yang digunakan untuk produksi tape disebut ragi, yang umumnya berbentuk bulat pipih dengan diameter 4 – 6 cm dan ketebalan 0,5 cm. Tidak diperlukan peralatan khusus untuk produksi ragi, tetapi formulasi bahan yang digunakan umumnya tetap menjadi rahasia setiap pengusaha ragi.

Tepung beras yang bersih dicampur dengan air untuk membentuk pasta dan dibentuk pipih dengan tangan, kemudian diletakkan di atas nyiru yang dilambari merang dan ditutup dengan kain saring. Organisme akan tumbuh secara alami pada pasta ini pada suhu ruang dalam waktu 2 – 5 hari.

Beberapa pengusaha menambahkan rempah-rempah atau bumbu untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme yang diharapkan. Penambahan sari tebu juga dilakukan untuk menambah gula.

Ragi dipanen setelah 2 – 5 hari tergantung dari suhu dan kelembapan. Produk akhir akan berbentuk pipih kering dan dapat disimpan dalam waktu lama. Tidak ada faktor-faktor lingkungan yang dikendalikan. Mikroorganisme yang diharapkan maupun kontaminan dapat tumbuh bersama-sama. Pada lingkungan pabrik ragi, mikroflora yang ada telah didominasi mikrobia ragi. Namun demikian, ragi yang dibuat pada musim hujan akan dijumpai Mucor sp dan Rhizopus sp dalam jumlah yang lebih banyak dan dibutuhkan waktu pengeringan yang lebih lama.

Jika pasta tetap basah, mikroorganisme tumbuh dan menggandakan diri. Jumlah kapang pada ragi berkisar dari 8 X 107 sampai 3 X 108/g, khamir 3 X 106 sampai 3 X 107/g dan bakteri kurang dari 105/g. Organisme yang menghasilkan tape dengan aroma baik adalah gabungan dari Amylomyces rouxii, Endomycopsis fibuliger dan Hansenula anoma. Untuk tape singkong yang adalah A. Rouxii dan E. Fibuliger