Dilestarikan, Tradisi Pengolahan Gula Aren Riau


Dikirim Oleh: Developer pada 17 Juni 2006 5:14:43 AM
MASYARAKAT Desa Huta Kaiti, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokanhulu, Riau dikenal sangat handal dalam memproduk gula aren dengan rasa lebih enak dan lebih manis dibandingkan produk dari daerah lain. Hal ini konon disebabkan masyarakat setempat memiliki cara tersendiri dalam mengolah gula aren itu menjadi produk yang siap dipasarkan. Konon juga cara-cara yang mereka miliki itu merupakan peninggalan nenek moyang mereka yang terus dipertahankan hingga sekarang.
MASYARAKAT Desa Huta Kaiti, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokanhulu, Riau dikenal sangat handal dalam memproduk gula aren dengan rasa lebih enak dan lebih manis dibandingkan produk dari daerah lain. Hal ini konon disebabkan masyarakat setempat memiliki cara tersendiri dalam mengolah gula aren itu menjadi produk yang siap dipasarkan. Konon juga cara-cara yang mereka miliki itu merupakan peninggalan nenek moyang mereka yang terus dipertahankan hingga sekarang.
Desa Huta Kaiti memang tidak bisa dilepaskan dari produk gula aren yang memiliki aroma dan rasa yang khas. Industri gula aren di desa ini dikelola oleh masyarakat dengan usaha keluarga. Maka, jangan heran jika disamping dapur rumah penduduk terdapat dapur pengolahan gula aren. Dari dapur-dapur inilah, penduduk menghasilkan gula aren yang berkualitas tinggi itu.
Cara-cara tradisional yang digunakan masyarakat Desa Huta Kaiti dalam membuat gula aren ini diantaranya dapat dilihat dari bentuk dan kemasannya. Bila biasanya gula aren ini dikemas dengan mempergunakan plastik dan kemudian dimasukkan dalam kotak-kotak karton yang sudah diberi lebel atau merek. Namun gula aren yang diproduksi masyarakat Desa Huta Kaiti cukup dikemas dengan daun pisang kering.
Barangkali karena dibungkus dengan daun pisang kering inilah, produk gula aren itu bisa lebih awet dan tidak berubah rasa walaupun dalam jangka waktu lama. Soalnya daun pisang itu selain berfungsi sebagai pembungkus, juga dapat berfungsi sebagai bahan mengering atau pencegah kelembaban. Jadi walaupun disimpan berlama-lama, gula aren yang dibungkus dengan daun pisang dapat terus dalam kondisi kering.
Alat yang digunakan untuk mengolah daun pisang itupun juga sangat sederhana. Untuk menampung air gula yang diambil dari batang aren digunakan batang bambu (buluh) dengan panjang sekitar satu meter. Air gula itu setelah tertampung keseluruhannya dimasukkan kedalam kancah (kuali besar) untuk siap dimasak. Besarnya api untuk memasak juga tidak sembarangan. Masyarakat Desa Huta Kaiti mengerti sekali beberapa besarnya api dalam memasak gula aren itu.
Setelah cairan gula aren sudah mengental dan berwarna kehitam-hitaman, siap untuk dicetak ke dalam cetakan yang terbuat dari tempurung kelapa dan ada pula dari batang bambu. Disini dibiarkan hingga benar-benar mengeras. Setelah keras, dikeluarkan dari cetakan dan siap dikemas dengan mempergunakan daun pisang. Daun pisang yang dipergunakan bukannya yang masih hijau, tapi yang sudah tua dan berwarna kecoklat-coklatan.
Munir (54) salah seorang pembuat gula aren di Desa Huta Kaiti itu mengatakan, setiap hari (pagi dan sore) dia menyadap tangkai buah aren untuk mendapatkan air gula. Pukul 15.00 Wib dia mulai memasaknya dan sore harinya gula aren itu sudah siap dikemas. Setiap hari, ayah dari 3 orang anak ini mampu menghasilkan paling sedikitnya 3 kilogram gula aren.
Gula aren yang sudah dikemas dengan bentuk yang sangat spesifik itu kemudian dikirim ke rumah Rifaldi Nasution (46), seorang juragan gula aren di desa ini. Sebagai Ketua Himpunan Pemuda Reformasi Huta Kaiti, Rifaldi memang merasa bertanggungjawab dalam memasarkan gula aren yang diproduk masyarakat desanya.
KARENA itu berapapun banyaknya produk gula areal dari masyarakat ditampungnya. Bahkan tidak hanya itu saja, Rifaldi senantiasa menjaga harga gula aren ini, sehingga masyarakat mendapatkan harga yang layak dan pantas. “Walaupun stok gula aren di pasarannya banyak, namun sampai saat ini harga jual gula aren di tingkat masyarakat tidak pernah anjlok. Bahkan saya akan berusaha terus bagaimana agar harga gula aren ini terus mengalami kenaikan,” ujarnya belum lama ini di Desa Huta Kaiti.
KARENA itu berapapun banyaknya produk gula areal dari masyarakat ditampungnya. Bahkan tidak hanya itu saja, Rifaldi senantiasa menjaga harga gula aren ini, sehingga masyarakat mendapatkan harga yang layak dan pantas. “Walaupun stok gula aren di pasarannya banyak, namun sampai saat ini harga jual gula aren di tingkat masyarakat tidak pernah anjlok. Bahkan saya akan berusaha terus bagaimana agar harga gula aren ini terus mengalami kenaikan,” ujarnya belum lama ini di Desa Huta Kaiti.
Salah satu usaha yang dilakukannya adalah mengemas lagi gula aren yang diproduk masyarakat itu dengan bentuk yang lebih menarik dan meningkatkan kualitasnya. Namun begitu dia tidak akan meninggalkan ciri aslinya, yakni mempergunakan daun pisang kering. “Alhamdulillah dengan usaha-usaha yang saya lakukan ini, harga gula aren yang dulunya Rp3 ribu per kilogram, kini sudah menjadi Rp4.500 per kilogram,” ungkapnya dengan bangga.
Rifaldi menjelaskan, pengolahan gula aren di desanya ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Cara yang digunakan untuk mengolah gula aren itu juga tidak pernah berubah. Sejak dulu yang digunakan masyarakat tidak pernah berubah sampai sekarang. Seakan-akan cara pengolahan gula aren yang sangat sederhana ini terus dilestarikan hingga sekarang.
Dari pengolahan gula aren ini, Rifaldi pernah memperoleh penghargaan peringat juara harapan kedua dari Gubernur Riau Saleh Djasit yakni penghargaan Adi Karya pada tahun 2001 lalu. Bersamaan dengan itu pula, Himpunan Pemuda Reformasi yang dibinanya mendapatkan pinjaman modal sebesar Rp 5 juta dari Disperindag Rokanhulu yang pencicilannya dilakukan setiap bulannya.
Rifaldi saat ini sudah bisa memanfaatkan tenaga pemuda yang menganggur di desanya sebanyak tujuh orang. Para pemuda yang dipekerjakannya itu bertugas mengepak gula aren itu untuk kemudian mengirimnya ke berbagai tempat, seperti ke Pekanbaru, Medan dan Malaysia. “Khusus untuk ke Malaysia, permintaannya dari waktu ke waktu terus mengalami lonjakan. Ini yang sangat mengembirakan kami,” ujarnya.
Banyaknya orang menyukai gula aren dari Desa Huta Kaiti ini, menurut dia, disebabkan pengolahannya hanya mempergunakan teknologi tradisional peninggalan nenek moyang, tanpa mempergunakan bahan pengawet atau bahan lainnya. Karena itu dia bertekad akan terus mempertahankan tradisi pembuatan gula aren yang sampai kini masih tetap digunakan masyarakat di desanya itu.
“Saya memang sudah bertekad tradisi pembuatan gula aren yang digunakan masyarakat Huta Kaiti ini akan terus dilestarikan di sepanjang masa, karena tradisi ini telah membuat gula aren produksi masyarakat Huta Kaiti dikenal banyak orang,” ujarnya. Bahkan pihaknya saat ini sedang menjajaki kemungkinan pemasaran gula aren itu sampai ke manca negara, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.(adrizas)
sumber:

10 thoughts on “Dilestarikan, Tradisi Pengolahan Gula Aren Riau

  1. Ass. Wr Wb, bagus ini artikelnya pak. saya di Riau tapi malah nemu artikelnya disini. saya pernah meneliti gula kelapa juga tapi di kab Inhil Riau. Mohon informasi : 1) Apakah ada kajian2 tentang perbaikan proses pembuatan/pemasakan gula kelapa ini tapi dengan teknologi tepat guna untuk pengrajin gula kelapa, 2)apakah bapak punya literatur hasil penelitian tentang residu sulfit dalam gula kelapa? karena pengrajin cenderung pakai pengawet kimia. terima kasih.Wasswr wb

    • Setelah saya mebaca tulisan Mbak Yeni Riau,Saya Tertaik ingin mendalami Gula merah kelapa n Gula merah Aren dari RIAU’Kalau boleh tau alamat nya Mbak Yani di Riau saya akan datang ke sana bisa hubungi saya di 081329151986.Arya,Banyumas Purwokerto.thx

  2. Trims pak. saya yang pernah minta metode analisis residu sulfit dulu, yang sudah bapak beri infonya. maksud saya memang nanti untuk cek gula kelapa di Riau pak. tapi saya baca di blog lain ada kutipan bahwa pernah ada penelitian bahwa residu sulfit gula kelapa banyak yang melewati batasan standar 300 ppm sulfit, tapi hanya blog, tidak ada sumber ilmiahnya. jadi kalau bapak ada info tolong ya pak…saya curiga dengan kadar sulfit di gula kelapa riau karena dosis pengawet natrium bisulfitnya dikira-kira saja oleh pengrajin..ada yang pakai pengawet alami kulit kayu tapi dianggap kurang praktis.
    wah, maksudnya brawijaya buka cabang atau kerjasama dengan universitas di Riau pak? di unri (sekarang jadi UR) baru ada fakultas pertanian dengan salah satu prodinya THP yang baru urus akreditasi, tapi masih menginduk ke jurusan agronomi. kalau saya di jur SEP prodi agrobisnis, tapi karena S1 saya Teknologi Pangan (TPG IPB) jadi minat penelitian saya tidak pernah jauh dari pangan. ..kapan mau buka di Riau Pak? terima kasih banyak, wassalam

  3. banyak sedikit memang tegantung perajinnya.mestinya tiap daerah punya kondisi pembatasnya dan dilakukan analisis. mungkinlembaga konsumen dan universitas. nampaknya kuliah jarak jauh di Bengkalis

  4. pak bisa kami minta info tempat magang atau studi banding tentang pengolahan gula aren, kalo ada dan bisa dimana tempat dan lokasinya. terima kasih.

  5. maaf pak..untuk analisa residu sulfit yang paling baik digunakan untuk gula kelapa apa??
    saya pernah baca ada yang pakai nitrogen mengalir???
    kalau boleh tau, referensinya apa ya??

    thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s