Sapi didikan Kapitalis?


Suatu saat saya pernah melihat pameran pertanian di Australia. Menurut pengamatan saya, sapi2 Australia itu telah dibreeding sedemikian rupa sehingga sangat besaaaar kalau dibandingkan dengan sapi2 yang saya lihat di dekat rumah saya di Jogja dulu. Namun demikian, wajah sapi2 ini terlihat sedih, dibandingkan rekan2 sejawatnya di tanah air.

Dari forum diskusi organik, lingkungan, kelompok penyayang binatang dan sejenisnya, saya ketahui bahwa sebagian besar sapi dan hewan2 ternak di Australia dipelihara dalam kondisi yang menyedihkan. Kandangnya pas badan, sehingga konversi energi dari pakan menjadi daging atau susu bisa maksimal. Mereka juga diberi hormon agar cepat besar, dan produksi daging, susu, dan telurnya maksimal. Sisi baiknya, memang harga susu, telur dan daging di Australia itu murah sekali. Anak2 Australia menjadi tinggi, besar, dan jarang ada yang OON karena kekurangan protein.

Namun kemudian muncul issue2 soal allergi, obesitas, dan kecurigaan terhadap susu sebagai pemicu kanker.

Pertanyaan saya, apakah memang sapi yang dipelihara dengan pakan yang berlebihan, jarang punya kesempatan jalan2 melihat indahnya dunia, distimulir dengan hormon pendorong laktasi, dan diperah dengan mesin itu tubuhnya akan memberontak dan menghasilkan trace element yang berbahaya bagi manusia?

Saya juga teringat dengan peternakan sapi di pertapaan Rawaseneng yang sering saya kunjungi jaman dahulu kala, ketika masih sekolah. Sapi2 di sana dipelihara dengan penuh cinta kasih… karena tujuannya memang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup para pertapa dan anak2 yatim piatu yang ada disitu. Sesuai pilihan ideologi yang dianutnya, hidup dalam doa, kasih, dan kesederhanaan, di pertapaan Rawaseneng, memang tidak ada aura keserakahan untuk menjadi kaya-raya sama sekali.

Sapi-sapi Rawasenang berkesempatan menikmati udara segar dan pemandangan yang indah di pegunungan. Makan makanan alami. Tidak diberi obat2an. Kalau sakit cukup diberi jamu2an herbal. Mereka diperah secara manual dengan tangan yang terampil… plus doa sebelum dan setelah memerah susu. Setiap hari mereka mendengar lagu puji-pujian kepada Tuhan dari para pertapa, baik dalam langgam Gregorian maupun Jawa klasik. Sapi-sapi ini juga nyaris tidak pernah mendengar bentakan, omelan maupun gosip karena technically, pertapa memang tidak boleh berkata-kata selain untuk berdoa. Hasilnya? Susu segar terlezat yang pernah saya minum! Kental, dan gurih, tetapi tidak menimbulkan eneg.

Memang di sana disamping sapi lokal, di sana ada turunan sapi Holland, yang nenek moyangnya memang diseleksi untuk menghasilkan susu. Dan beberapa tahun yang lalu, saya pernah mendengar bahwa jenis2 musik yang berbeda akan mempengaruhi volume susu yang dihasilkan. Di Indonesia sendiri, ibu menyusui disarankan untuk tidak bersedih hati, agar produksi ASI tidak terganggu.

Saya tidak tahu, apakah cara budidaya sapi ala ‘kapitalisme’ dan ala ‘surgawi’ ini memang berpengaruh terhadap volume dan kualitas susu yang dihasilkan?

Terimakasih banyak Pak Anang.

Salam,

daisy (Anggota PATPI di Australia)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s