Bahayakah Tas Kresek Hitam?

Badan POM RI
perlu mengeluarkan peringatan kepada publik sebagai berikut (Nomor: KH.00.02.1.55.2890 tanggal 14 Juli 2009):
1. Kantong plastik kresek berwarna terutama hitam kebanyakan merupakan produk daur ulang yang sering digunakan untuk mewadahi makanan.
2. Dalam proses daur ulang tersebut riwayat penggunaan sebelumnya tidak diketahui, apakah bekas wadah pestisida, limbah rumah sakit, kotoran hewan atau manusia, limbah logam berat, dll. Dalam proses tersebut juga ditambahkan berbagai bahan kimia yang menambah dampak bahayanya bagi kesehatan.
3. Jangan menggunakan kantong plastik kresek daur ulang tersebut untuk mewadahi langsung makanan siap santap
4. Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Unit Layanan Pengaduan Konsumen Badan POM RI dengan nomor telepon 021-4263333 dan 021-32199000 atau e-mail ulpk@pom.go.id dan ulpkbadanpom@yahoo.com atau melihat di website Badan POM, http”//www.pom.go.id
5. Demikian peringatan ini disampaikan untuk disebarluaskan

Iklan

Getting out the gluten

Celiac disease (an autoimmune disorder whose symptoms are triggered by gluten, the protein content in wheat, barley, rye, and spelt ) is on the rise. That’s one reason for the rise in popularity of gluten-free food.

Celiac specialists say the disease isn’t diagnosed as often as it should be. As a result, many people suffer with it for years, often after getting other — and incorrect — diagnoses and useless treatments.

But a growing number of the people dodging gluten fall into a gray area: they don’t have celiac disease but seem to be unable to digest gluten properly. There are no tests or strict criteria for this problem, aside from simple trial and error with a gluten-free diet. Some people may be getting caught up in a food fad. But many others probably do have trouble digesting gluten or perhaps the sugars in some of these grains (like the lactose intolerance that makes it hard to digest dairy foods).

Do you have a gluten problem?

The classic and most immediately noticeable symptoms of celiac disease are, not surprisingly, gastrointestinal: bloating, flatulence, and diarrhea, sometimes with smelly stools. People who can’t digest gluten or grain sugars may have similar symptoms.

Celiac disease can severely impair the absorption of nutrients. In children, this may lead to stunted growth; in adults, the consequences include anemia (because iron isn’t being absorbed) and weaker bones (because calcium and vitamin D aren’t getting into the body). Anemia causes fatigue and malaise, but some people with celiac disease feel that way without anemia.

Doctors sometimes miss the celiac disease diagnosis because they’re looking for the classic gastrointestinal symptoms, not the vaguer ones that stem for the most part from malabsorption of nutrients.

One major difference between celiac disease and grain-related digestion problems is that when it’s just a digestion problem it typically doesn’t lead to malabsorption and nutritional deficiencies.

Women with untreated celiac disease have higher-than-normal rates of menstrual abnormalities and infertility. A large study published in 2007 found an increased risk of pancreatitis in people with celiac disease. It’s not clear whether these associations suggest a cause-and-effect relationship or if celiac disease and these conditions happen to share an underlying cause.

Grains for the gluten-challenged

We’re often too quick to depend on pills instead of first working to change our diet and exercise habits. But with celiac disease, there’s no pill, and a fairly radical change in diet is the only treatment. Drug companies have started to take some interest in the disease, and treatments that would block the absorption of gluten are being investigated, but none so far are close to gaining FDA approval.

Until you need to avoid gluten, you probably don’t realize how ubiquitous it is. Gluten is used as a thickening agent and filler in everything from ketchup to ice cream. The inactive ingredients in many medications are gluten-based. And even when gluten isn’t an ingredient, it may inadvertently get into a food because a wheat-based food was processed in the same factory, or wheat was grown in a nearby field. At home, wooden utensils and toaster ovens are gluten “hot spots.” Oats don’t contain gluten, but many people with celiac disease avoid them because of contamination problems.

The gluten-free diet has traditionally depended on starch from rice, corn, and potatoes. Food makers have also learned how to use xanthan and guar gums to replace gluten’s elasticity: a common complaint about gluten-free baked goods is that they are powdery. But these formulations can also leave diets short of fiber and B vitamins. Melinda Dennis, the nutrition coordinator at the Beth Israel Deaconess Medical Center Celiac Center, encourages patients to eat foods made with unconventional but nutritionally well-rounded substitutes, including amaranth, buckwheat (no relation to wheat), millet, quinoa, sorghum, and teff. She calls them the “super six” because of their high vitamin and fiber content.

Eating out is one of the biggest issues for people with gluten problems. Vegetables get contaminated because they are steamed over pots of pasta water. Fish and chicken are floured to hold seasonings. But many restaurants are beginning to offer gluten-free items. And there are some celiac-friendly cuisines, even if they are not overtly gluten-free. Ethiopian (which uses teff), Indian, Mexican, and Thai are good possibilities.For more information on common digestive disorders, order our Special Health Report, The Sensitive Gut, at www.health.harvard.edu/SG

Perencanan Produk

Rencana produk mengidentifikasi portofolio produk – produk yang dikembangkan oleh organisasi dan waktu pengenalannya ke pasar. Proses perencanaan mtimbangkan peluang – peluang itu diidentifikasi oleh banyak sumber, mencakup usulan bagian pemasaran, penelitian, pelanggan, tim pengembangan produk, dan analisis keunggulan pesaing. Berdasarkan peluang – peluang ini, suatu protofolio proyek dipilih, waktu proyek ditentukan secara garis besarnya, dan sumberdaya dialokasikan.

Rencana produk secara teratur diperbaharui agar mencerminkan adanya perubahan dalam lingkungan persaingan, teknologi, dan informasi keberhasilan produk yang sudah ada. Rencana produk dikembangkan dengan memprediksi sasaran perusahaan, kemampuan, batasan dan lingkungan persaingan. Memutuskan perencanaan produk melibatkan manajemen senior organisasi dan memakan waktu bertahun –tahun atau beberapa waktu dari setiap tahun. Pada umumnya sebuah organisasi memiliki seorang direktur pengembangan produk yang mengatur proses ini.

Suatu proyek pengembangan produk sering mengalami hal – hal yang tidakefisien seperti:

  • Pasar target dibandingkan produk – produk  pesaing tidak terpenuhi
  • Perencanaan waktu untuk mengenal produk di pasar tidak tepat
  • Adanya ketidaksesuaian antara kapasitas pengembangan keseluruhan dengan jumlah proyek yang diikuti.
  • Distribusi sumber daya kurang baik, misalnya beberapa proyek kelebihan tenaga kerja, sementara yang lain kekurangan
  • Permulaan  dan pembatalan proyek yang tidak menguntungkan
  • Frekuensi pengaturan proyek berubah.

Pada tahap ini, tim perencanaan produk membuat perencanaan produk dan menentukan mission statement dari project, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi semua opportunity untuk mengembangkan produk
  2. Mengevaluasi setiap opportunity pengembangan produk yang ada, kemudian membuat prioritas project mana yang akan dilakukan.
  3. Membuat alokasi resource dan menentukan timeline serta urutan proses dari project yang akan dilakukan.
  4. Membuat pre-project planning dengan mengidentifikasikan mission statement dari produk (deskripsi produk, key business goals, target market, asumsi dan hambatan yang ada, dan stakeholder dari produk).
  5. Mengevaluasi kembali perencanaan produk yang telah dibuat.

Sulit Berkonsentrasi? Santap Makanan Ini!

By Petti Lubis VIVAnews – Selasa, Juli 7 VIVAnews –

Setelah makan siang, biasanya semangat bekerja mulai menurun. Tubuh terasa lemas, dan kantuk mulai menyerang. Akibatnya, konsentrasi kerja pun buyar.

Tapi, untungnya ada makanan yang bisa Anda konsumsi untuk meningkatkan konsentrasi kerja dan membuat pikiran lebih jernih. Saat hasrat ngemil junk food sedang melonjak, coba pilihan makanan berikut ini untuk menambah konsentrasi Anda!

Sereal gandum dan jus jeruk

Awali hari dengan menyantap semangkuk sereal gandum dan segelas jus jeruk. Dua santapan ini kaya kandungan asam folat, yang bisa membuat daya ingat lebih tajam, dan otak lebih cepat menyerap informasi. Untuk camilan di siang hari, Anda bisa mendapat asupan asam folat dari makanan berbahan kacang kedelai (tempe, tahu, susu), brokoli, dan kacang hijau.

Kembang kol dan kacang

Sebuah penelitian dari rumah sakit McLean Hospital, afiliasi Fakultas Kedokteran Harvard, AS, menyarankan untuk mengonsumsi suplemen citicoline (500mg) setiap hari untuk menambah energi.  Choline alami juga bisa Anda dapatkan dari kembang kol dan kacang-kacangan. Saat masuk ke dalam tubh, choline akan berubah menjadi citicoline.

Brokoli, tauge dan bayam

Jika Anda memesan sayuran saat makan siang, pastikan untuk memasukkan jenis sayuran ini di dalamnya. Pilihan menunya seperti gado-gado, salad, cap cay, atau ketoprak. Harvard melakukan penelitian terhadap 13.000 responden wanita yang mengonsumsi makanan ini. Terbukti, daya ingat dan konsentrasi mereka makin bertambah.

Buah jenis beri, anggur, dan plum

Pada buah-buahan, buah berjenis beri memiliki antioksidan untuk menambah konsentrasi yang paling tinggi. Plus, buah ini juga mengandung anthocyanin, sebuah zat nutrisi yang bisa menghambat penurunan daya ingat alias Anda jadi tak mudah pikun. Quercetin, nutrisi lainnya yang juga terkandung dalam beri juga memiliki benefit sama. Blueberries, apel, anggur berwarna gelap (ungu, merah, dan hitam) juga mengandung dua jenis flavonoids di atas.

Salmon dan Mackarel

Sejumlah penelitian telah membuktikan nutrisi untuk membangkitkan memori, salah satunya adalah asam lemak omega 3. Salmon dan mackarel kaya kandungan asam lemak omega 3. Mengonsumsi jenis ikan itu setidaknya sekali seminggu bisa membuat otak lebih ‘awet muda’.

Menurut penelitian Rush University Medical Center, Chicago, AS menemukan bahwa wanita dan pria yang rutin mengonsumsi ikan, daya ingat mereka lebih tajam, dan lebih mudah fokus dalam pekerjaan. Tidak suka ikan? Anda bisa mengonsumsi suplemen minyak ikan.