Manfaat Kesehatan Labu Kuning (Cucurbita moschata): Mekanisme Pemadaman Oksigen Singlet oleh Karotenoid

Maria Suharsini*, Winda Rahmalia, Sunarto

Magister Biologi Universitas Kristen Satya Wacana

*Contact person: maria.suharsini@yahoo.co.id, tel.: 081325277972

 

ABSTRAK

Labu kuning atau waluh (Cucurbita moschata), yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai pumpkin, termasuk dalam komoditas pangan yang pemanfaatannya masih sangat terbatas. Secara tradisional, daunnya berfungsi sebagai sayur dan bijinya bermanfaat untuk dijadikan kuaci. Air buahnya berguna sebagai penawar racun binatang berbisa, sementara bijinya menjadi obat cacing pita. Labu kuning juga dapat digunakan untuk penyembuhan radang, pengobatan ginjal, demam dan diare. Penelitian terbaru juga telah mengungkapkan bahwa daging buah labu kuning mengandung pigmen alami yang bermanfaat bagi kesehatan, yaitu karotenoid terutama         β-karoten yang konsentrasinya sekitar 39 μg/g.

Beta karoten memiliki aktivitas antiokisidan sebagai penangkal kanker (salah satu penyakit yang disebabkan oleh kehadiran oksigen singlet). Beta karoten menjadi senyawa biologis yang penting karena dapat menginaktivasi molekul tereksitasi (excited molecule), seperti oksigen singlet. Proses ini dinamakan quenching atau ’pemadaman’. Beta karoten mempunyai struktur kimia dengan sejumlah ikatan rangkap terkonjugasi sehingga mampu menetralkan atau memadamkan reaktivitas oksigen singlet dengan cara menghamburkan energi dari oksigen singlet tersebut ke seluruh ikatan tunggal dan rangkap untuk kemudian dilepas sebagai panas, sedangkan molekul β-karoten kembali ke energi semula. Pada saat itu oksigen singlet telah diubah menjadi oksigen normal.

Satu mol β-karoten mampu memadamkan sampai 1000 mol singlet oksigen, sehingga dengan mengkonsumsi labu kuning, maka kebutuhan karotenoid dalam tubuh dapat tercukupi. Akibatnya dapat mengurangi risiko penyakit kanker. Oleh karena masalah tersebut dalam tulisan ini akan diuraikan mengenai potensi labu kuning dalam bidang kesehatan terutama dalam mengurangi risiko kanker.

Kata kunci: kanker, labu kuning, singlet oksigen

Iklan

Isolasi Khamir Basidiomycetes

Nur Hidayat

Khamir, seperti halnya organism heterotrof lainnya, membutuhkan karbon, nitrogen, fosfor, elemen-elemen kelumit dan faktor tumbuh sebagai sumber nutrisi.  Khamir jarang berada tanpa adanya jamur atau bakteri dan umumnya di alam tidak berada sebagai kultur murni. Hal ini menjadi penting untuk menganalisis komponen yang krusial. Teknik selektif sering digunakan untuk penapihan khamir, penggunaan media yang mendukung pertumbuhan kahmir dan menekan bakteri atau jamur sangat dianjurkan.

Untuk keperluan isolasi, teknik goresan sangat direkomendasikan. Medium yang baik digunakan adalah Yeast-malt (YM) agar yang diasamkan sampai 3,7 menggunakan asam klorida atau asam fosfat. Fungistatik dapat digunakan dengan beberapa pengecualian karena beberapa diantaranya juga menghambat pertumbuhan khamir. Kultur biasanya diinkubasi pada suhu 20 – 250C karena khamir basidiomycetes umumnya adalah mesofilik.

Penapihan khamir yang ada dalam jumlah rendah membutuhkan penggunaan media diperkaya dan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhannya dibandingkan mikro-organisme lainnya. Biasanya sampel diinokulasikan kedalam medium dengan pH 3,7 sampai 3,8. Udara dapat dikeluarkan dari kultur untuk mencegah pertumbuhan jamur. Metode ini akan mendukung strain fermentative dibandingkan yang aerob. Parafin steril dapat ditaburkan di atas permukaan media hingga 1 cm untuk menhindarkan dari udara.

Sumber karbon yang biasanya digunakan oleh mikroorganisme adalah berupa glukosa atau karbohidrat lainnya dan digunakan sebagai sumber karbon dan energy. Isolasi khamir yang mampu menggunakan sumber karbon non karbohidrat seperti alkana, alkana bercabang, senyawa aromatic dan alkana siklik adalah hal penting karena senyawa-senyawa tersebut banyak menjadi kontaminan di lingkungan.

Diversitas dan Ekologi khamir

Nur Hidayat

Khamir dapat ditemukan diberbagai tempat di dunia. Saat ini lebih dari 700 spesies telah diklasifikasikan dalam 100 genus. Namun demikian,itu hanya sebagian kecil dari biodiversitas. Diduga ada sekitar 62.000 genus dan 669.000 spesies khamir. Khamir tidak mampu berpindah tempat dan tergantung dari vector-vektor seperti angin, serangga ataupun manusia.

Sifat khamir uniseluler membuat mereka lebih cocok untuk substrat cair dalam atau permukaan lembab dan tidak merata. Oleh karena itu, khamir tumbuh biasanya dalam lingkungan yang lembab dimana ada berlimpah makanan sederhana, nutrisi larut seperti gula dan asam amino. Hal ini menjelaskan mengapa mereka umumnya terdapat pada permukaan daun dan buah, pada akar dan dalam berbagai jenis makanan. Pengecualian adalah mereka yang mendegradasi polimer, seperti pati dan selulosa. Khamir Basidiomycetous terdistribusikan secara luas pada berbagai substrat seperti kayu dan kulit kayu angiosperma, tanaman yang telah mati dan jamur.

khamir secara luas dapat ditemukan di perairan. Mereka juga ditemukan berasosiasi dengan tubuh hewan tertentu di mana mereka bertindak sebagai kommensals usus. Jenis nutrisi yang mencapai tanah menentukan mikroflora khamir meskipun beberapa bentuk adalah penghuni tetap di tanah, misalnya, spesies-spesies Cryptococcus, Rhodotorula, dan Sporobolomyces.

Lime pretreatment of sugar beet pulp and evaluation of synergy between ArfA, ManA and XynA from Clostridium cellulovorans on the pretreated substrate

Roselyn Dredge • Sarah E. Radloff • J. Susan van Dyk • Brett I. Pletschke.

3 Biotech (2011) 1:151–159

Abstract

Sugar beet pulp (SBP) is a waste product from the sugar beet industry and could be used as a potential biomass feedstock for second generation biofuel technology. Pretreatment of SBP with ‘slake lime’ (calcium hydroxide) was investigated using a 23 factorial design and the factors examined included lime loading, temperature and time. The pretreatment was evaluated for its ability to enhance enzymatic degradation using a combination of three hemicellulases, namely ArfA (an arabinofuranosidase), ManA (an endo-mannanase) and XynA (an endoxylanase) from C. cellulovorans to determine the conditions under which optimal activity was facilitated. Optimal pretreatment conditions were found to be 0.4 g lime/g SBP, with 36 h digestion at 40 C. The synergistic interactions between ArfA, ManA and XynA from C. cellulovorans were subsequently investigated on the pretreated SBP. The highest degree of synergy was observed at a protein ratio of 75% ArfA to 25% ManA, with a specific activity of 2.9 U/g protein. However, the highest activity was observed at 4.2 U/g protein at 100% ArfA. This study demonstrated that lime treatment enhanced enzymatic hydrolysis of SBP. The ArfA was the most effective hemicellulase for release of sugars from pretreated SBP, but the synergy with the ManA indicated that low levels of mannan in SBP were probably masking the access of the ArfA to its substrate. XynA displayed no synergy with the other two hemicellulases, indicating that the xylan in the SBP was not hampering the access of ArfA or ManA to their substrates and was not closely associated with the mannan and arabinan in the SBP.

Keywords Arabinofuranosidase, Lignocellulose, Mannanase, Sugar beet pulp, Synergy, Xylanase