Konsekuensi Kesempurnaan Islam


Syaiful Bahri

Setelah mengetahui dengan pasti kesempurnaan agama Islam ini, maka di antara konsekuensinya adalah bahwa kita tidak boleh menambahkan sesuatu pun yang baru dalam agama ini, sebagaimana kita juga tidak boleh menguranginya. Inilah yang dipahami oleh para Ulama semenjak dahulu. Sebagian dari perkataan mereka di antaranya:

1. Imam Mâlik bin Anas rahimahullâh berkata:

“Barangsiapa membuat bid’ah (perkara baru) di dalam Islam dan dia memandangnya sebagai suatu kebaikan, maka, sungguh dia telah menyangka bahwa Nabi Muhammad mengkhianati risalah (tugas menyampaikan agama) ini, karena Allâh telah berfirman:

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu.” (Qs al-Mâidah/5:3).

Oleh karena itu, segala sesuatu yang pada hari itu bukan dari agama, pada hari ini pun juga bukan dari agama”.

2. Imam asy-Syâthibi rahimahullâh berkata:

“Sesungguhnya orang yang menganggap baik suatu bid’ah, secara umum memuat konsekuensi bahwa menurutnya syari’at itu belum sempurna, sehingga firman Allâh Ta’âla, ”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu”, tidak memiliki nilai makna menurut mereka”.

Maka orang yang demikian adalah orang yang sesat dari jalan yang lurus.

3. Imam asy-Syaukâni rahimahullâh berkata:

“Jika Allâh Ta’âla telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mewafatkan Nabi-Nya, maka apakah perlunya pemikiran/pendapat baru, padahal Allâh Ta’âla telah menyempurnakan agama-Nya. Jika menurut keyakinan mereka pemikiran baru itu termasuk agama, maka agama ini menurut mereka belum sempurna; kecuali dengan pemikiran mereka. Yang berarti bahwa keyakinan mereka ini membantah al-Qur’ân. Jika itu bukan dari agama, maka apa gunanya menyibukkan diri dengan perkara yang tidak termasuk agama. Ini adalah argumen yang sangat kuat dan bukti yang agung. Orang yang membuat pemikiran baru tidak mungkin membantahnya dengan bantahan apapun selamanya. Maka jadikanlah ayat yang mulia ini (Qs al-Mâidah ayat 3) pertama kali untuk menampar wajah ahli ra’yi (pengagung akal), menghinakan mereka, dan menghancurkan hujjah mereka”.

4. Syaikh Muhammad Sulthân Al-Ma’shûmi rahimahullâh berkata:

“Jalan-jalan agama dan ibadah-ibadah yang benar hanyalah yang telah dijelaskan oleh Sang Pencipta makhluk lewat lisan Rasul-Nya, Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Maka, barangsiapa menambah atau menguranginya berarti dia telah menyelisihi Allâh Ta’âla yang Maha Bijaksana, Maha Mencipta dan Maha Mengetahui, sebab dia meramu obat-obat bagi dirinya sendiri. Padahal, kemungkinan obat itu malah akan menjadi penyakit, dan ibadahnya menjadi maksiat tanpa dia sadari. Karena agama ini telah sempurna, maka barangsiapa menambah ajaran baru dalam agama, berarti dia menyangka bahwa agama ini kurang (sempurna), lalu dia menyempurnakannya dengan anggapan baik menurut akalnya yang rusak dan khayalnya yang tidak laku”.

2 thoughts on “Konsekuensi Kesempurnaan Islam

  1. setuju tapi jangan juga dikit dikit bid’ah, ibadah jadi dibatasi
    ada satu contoh bid’ah hasanah dan yang suara terompahnya di surga terdengar oleh nabi
    yaitu ibadahnya bilal, ia melazimkan sholat sukril wudlu yang notabebene tidak dianjurkan ataupun dilarang oleh nabi…semoga menjadi perenungan… bahwa ada bid’ah hasanah,,,tidak melulu dholalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s