Mengenang kebaikan Pak kasmidjo (alm) -Daisy


Pak-Kas Kapas beku bertaburan dari langit Cologne yang kelabu keperakan.
Sangat indah, sekaligus dingin.
Saat itu, telepon berdering.
Tidak biasanya.
Ke nomor Simpati itu.
Siapa yang tahu nomor itu di sini?
Siapa yang masih ingat?
Ternyata Pak Haryadi.
Tak bisa diangkat.
Pulsa sudah berhari-hari habis karena jarak yang membentang.
Di jantung Eropa aku mendengar kabar duka itu.
Ingin menangis rasanya.
Tapi aneh, hati ini juga merasa lega.
Dosen yang kusayangi dan kuhormati telah pergi dengan tenang.
Tidak ada lagi kegelapan baginya.
Di surga, semua terlihat jelas dan indah.
Di surga, ia bisa melihat segala bunga bermekaran, burung-burung di udara,
juga membaca jurnal sampai puas.
Aku yakin, ia akan pergi ke sana.
Dosen sebaik itu.
Ia bukan cuma mengajar mikrobiologi,
tetapi mengajar kehidupan.
Kapanpun.. bertahun-tahun setelah lulus dari TP,
bekerja di manapun,
jatuh bangun beribu kali,
Pak Kas selalu menyediakan telinga, dan memberi masukan ketika kudatangi.
Dua tahun yang lalu, hatiku sungguh babak belur dengan kejutan lintas budaya.
Ia ada.
Seperti biasa, menyediakan kuping, dan nasehat gratis.
Bersama-sama kami memikirkan bagaimana mengerjakan sesuatu yang mengasikkan.
Ia datang sebagai tenaga ahli di workshop.
Dengan penglihatan yang sudah sangat kabur, jarak Solo-Jogja ditempuhnya.
Demi aku muridnya yang nakal dan tak tahu sudah begitu berat kondisinya saat itu.
Ia sangat senang.
Kami masih berbincang soal tempe hemat air yang dikembangkannya.
Kami bicara soal mengolah anggur lokal untuk keperluan ibadah
supaya masyarakat miskin di NTT bisa tertolong,
supaya dana gereja bisa dipakai untuk membantu lebih banyak orang-orang sengsara.
Sepulang dari workshop, langsung sibuk menghitung-hitung.
Tak lama kemudian, ia menelponku.
Ia sudah siap dengan setumpuk ide, hitung-hitungan, dan konsep.
Permintaan terakhirnya, “Des, aku ingin mengabdikan sisa hidupku, ilmuku untuk membantu gereja.  Tolong carikan jalan.”
Ya Tuhan, itu pun tak bisa kupenuhi.
“Maaf Pak, saya tidak tahu harus bagaimana. Saya mau pergi.”
dan di sinilah aku di Cologne yang beku
bercucuran air mata.
Selamat jalan Pak Kasmidjo.
Selamat jalan guru yang baik.
Semoga kepergianmu mengingatkan kami untuk selalu menghemat air dan energi, dalam pikiran maupun perbuatan.
Tuhan besertamu.
daisy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s