Hikmah Quick count Pilpres

hasil hitung cepat pilpres kali ini meninggalkan suatu yang membingungkan masyarakat karena masing-masing mengklaim memenangkan pilpres dengan data masing-masing
kenapa dapat terjadi perbedaan?
semua menyatakan menggunakan teknik sampling yang standar
populasi memang beda dengan sampel
namun jika hasil sampel tidak dapat mewakili populasi maka mestinya ada yang salah
dalam statistik, menggunaan sampel sering dilakukan karena tidak dimungkinkannya pengunaan populasi dengan berbagai sebab
namun demikian, cara pengambilan sampel harus benar benar diperhatikan karena salah mengambil sampel hasil penelitian akan memiliki kesimpulan yang berbeda.
dalam kaitan dengan pemilu bahkan dapat mennimbulkan konflik horisontal
oleh sebab itu seharusnya mereka yg bekerja dengan sampel harus benar2 paham, karena kesalahan mereka dampaknya tidak hanya bagi mereka
hal ini juga prelu dipahami oleh penelitian termasuk mahasiswa ketika membuat skripsi, tesis ataupun disertasi.
pahami teknik pengambilan sampel shg data anda dapat dipertanggungjawabkan
random diartika acak bukan acak-acakan
salam

Ekstraksi

Secara tradisional teknis ekstraksi solven mendasarkan pada macam solven yang digunakan dan suhu atau agitasi untuk meningkatkan kelarutan senyawa yang diekstrak. Biasanya teknik tradisional membutuhkan waktu ektraksi yang cukup lama sehingga memungkinkan terjadinya degradasi senyawa yang diharapkan.

Ekstraksi merupakan upaya untuk memisahkan produk yang diharapkan dengan bahan pengotor. Ekstraksi merupakan tahap awal dari purifikasi. Salah satu contoh produk yang dapat diperoleh melalui ekstraksi adalah polimer yang dihasilkan oleh bakteri Gram negative. Polimer ekstraseluler pada bakteri umunya kaya akan monosakarida seperti D-glukosa, D-galaktosa dan D-manosa. Contoh bakteri yang memiliki lender dan polimer kapular ekstraselular adalah Klebsiella aerogenes (Aerobacter aerogenes). Polisakarida yang dihasilkan mengandung glukosa 50 %, asam uronat 29 %, fukosa 10 % dan galaktosa 1 %. Banyak metode ekstraksi yang telah diteliti untuk ekstraksi polimer. Sebelum proses ekstraksi umumnya dilakukan separasi untuk memisahkan kotoran limbah yang cukup besar. Daam laboratorium dilakukan dengan sentrifugasi kecepatan rendah 2.000 x g. Supernatan yang diperoleh dapat dilakukan ekstraksi menggunakan beberapa metode di atas. Beberapa metode ekstraksi diantaranya adalah:

  1. Ammonium hydroxide extraction

Cara ini dapat digunakan untuk produksi biofuel dari tongkol jagung terutama pada penyiapan bahan baku. Amonium hidroksida ditambahkan pada hidrolisat sampai pH mencapai 8,5. Suhu ditingkatkan hingga 300C selama proses. Setelah 30 menit, larutan disaring dengan polyethersulfone 0,22 mm. pH kemudian diatur agar larutan siap difermentasi (pH 5,7) dengan asam sulfat 10 N. larutan kemudian larutan disaring kembali untuk siap digunakan.

  1. Sodium hydroxide extraction

Sampel sebelumnya disentrifugasi pada 2.000Xg selama 20 menit, kemudian supernatant yang diperoleh ditambah NaOH 2M. Sampel kemudian diaduk dengan kuat pada 200C selama 5 jam, setelah itu diencerkan dengan air ledeng untuk mengembalikan ke volume semula. Sampel kemudian disentrifugasi pada 2.000 x g untuk memisahkan sel.

  1. Ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA) extraction

Ekstraksi EDTA dilakukan dengan menambahkan EDTA 2 % pada sampel dan dibiarkan selama 3 jam pada 40C. sampel kemudian disentrifugasi pada 14.000xg selama 20 menit pada 40C.

  1. Sulfuric acid extraction
  2. Trichloroacetic acid extraction
  3. Boiling benzene extraction
  4. Ultrasonification

Sampel hasil separasi diultrasonikasi selama 10 menit dengan voltage dikurangi sampai 120 V yang memberikan output 18 W. Langkah selanjutnaya untuk memisahkan sel dilakukan dengan sentrifugasi 2.000xg.

  1. Blending
  2. High-speed centrifugation

Sampel hasil separasi disentrifugasi pada kecepatan tinggi (33.000xg) selama 10 menit pada suhu 40C. Pelet yang diperoleh diresuspensikan kembali untuk meningkatkan daaya sentrifugal sel atau flok, dan disentrifugasi kembali pada 33.000xg selama 10 menit.

  1. Extraction by boiling atau autoclaving

Sampel di autoclave selama 10 menit kemudian disentrifugasi (masih dalam keadaan panas) pada 8.000xg selama 10 menit. Selama sentrifugasi suhu diturunkan hingga 150C.

Selain penggunaan solven, kini para peneliti mulai mencari metode-metode baru untuk ekstraksi agar kualitas produk yang diharapkan dapat diperoleh dengan baik. Beberapa contoh cara yang kemudian dikembangkan adalah reflux dan sonikasi. Pengaruh mekanik dari ultrasonic akan menginduksi penetrasi solven ke sel lebih baik, memfasilitasi pelepasan isi sel dan memperbaiki transfer massa

UKM dan Kasus Pemasaran

UKM merupakan kekuatan penting dalam industri lokal karena kemampuannya melakukan produksi dalam skala kecil. sayangnya dalam setiap kesempatan betemu dengan mereka selalu ucapan yang sering muncul adalah

Kita sudah mampu memproduksi dan menjaga kualitas tapi begitu akan memasarkan produk, kami selalu kebingungan. banyak yang menolak produk kami dengan berbagai alasan, jadi kami harus bagaimana agar dapat memasarkan produk?”

Sebuah ungkapan yang wajar. sayangnya banyak ahli pemasaran di negara ini yang belum banyak menyentuh untukmembangkitkan kemampuan saudara-saudara kita.

saya bukanlah ahli pemasaran karena saya mendapat pendidikan di bidang mikrobiologi, namun seringnya menerima keluhan saudara-saudaraku di UKM maka saya mencoba meranngkum beberapa hal yang mungkin terlewatkan oleh para pelaku UKM.

Pertanyaan strategis untuk usaha anda:

• Apakah keunikan produk anda?
• Dimana produk anda mudah diperoleh?
• Dimanakan nilai paling besar dari produk anda?
• Apakah komentar  yg paling umum dari konsumen terhadap produk anda?
Pertanyaan strategis untuk kompetitor
¨ Siapakah lima kompetitor utama anda?
¨ Apa kekuatan kompetitor??
¨ Dimana produk mereka tersedia?
¨ Dimana anda dapat memasuki/merebut pasar?
¨ Bagaimana, harga, layanan dan kualitas kompetitor?
Pertanyaan Strategis untuk Pasar:
¨ Tahukah anda lima tren yang ada saat ini?
¨ Bagaimana melakukan perubahan?
¨ Berapa banyak segmen pasar yg akan anda layani?
¨ Dimana potensi tumbuh paling tinggi?
¨ Konsumen mana yang paling baik dan mengapa?
Jika para pelaku UKM dapat menjawab dan menjabarkan pertanyaan2 tadi maka sebenarnya anda telah siap memasarkan produk anda, setiap pertanyaan kaitkan dengan produk anda
selamat berkarya semoga mampu merebut pasar.
amiin

Ketahanan pangan berbasis pangan lokal

  1. Hariyadi – UGM (dalam diskusi ucapan selamat Prof Bagio UNJ)

Menurut Ave (1977), pangan pokok nenek moyang kita ialah pati sagu, kemudian berangsur-angsur berubah ke beras. Pulau Jawa dulu disebut Java Dvipa, yang artinya pulau padi. Jenis padi buluh (Oryza sativa var. javanica) yang memiliki rasa yang enak, bau harum dan tekstur yang empuk berasal dari Jawa. Jawa sudah lama dikenal sebagai pulau penghasil dan pengekspor beras (Anonim, 2000).

Setelah tahun 1500, pengembangan jalur-jalur perdagangan oleh orang-orang Spanyol, Portugis dan kemudian Inggris, Perancis dan Belanda, menghasilkan penyebaran yang cepat dan saling tukar berbagai jenis tanaman. Kebun percobaan dan kegiatan perdagangan berperan penting dalam penyebaran bahan-bahan tanaman (Gabbon dan Pain, 1985). Tanaman pangan seperti jagung, ubi kayu, dan kentang yang berasal dari Amerika Selatan, kemudian tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Evolusi dari pangan pokok sagu dan keladi ke padian terjadi di wilayah kering seperti Timor, Flores dan Sumba. Empat palma penghasil pati sebagai pangan pokok sebelumnya ialah gebang, lontar, dan sedikit sagu Metroxylon sp dan aren yang kurang tahan pada lahan kering. Pengenalan jagung yang cocok di iklim Nusa Tenggara mengakibatkan perubahan pola pangan pokok sagu dan keladi, ke jagung. Sedikit wilayah ditanami padi dan sorgum (Andropagon sorghum Brot.) (Kruyt, 1972; dalam Avé, 1977). Berbeda terhadap Sorghum bicolor (L) Moench yang dimasukkan ke Nusantara pada tahun 1925 (Rismunandar dan Fraeyhoven, 1974).

Pemanfaatan ubi kayu dan jagung sebagai pangan pokok di beberapa wilayah adalah akibat lingkungan yang memaksa, arena nenek moyangnya pemakan beras, lama sebelum ubi kayu dan jagung didatangkan ke Nusantara. Jika beras terjangkau secara fisik dan ekonomis di wilayah-wilayah tersebut maka beras menjadi pangan pokok.

Pengembangan tepung ubi kayu di Indonesia senantiasa timbul-tenggelam seiring dengan pengembangan diversifikasi pangan. Kemampuan penyediaan pangan pokok mengakibatkan diversifiksi pangan masih berkisar utamanya pada diversifikasi pangan pokok.

Usaha diversifikasi pangan dilakukan a. l. dengan penyediaan tepung ubi kayu untuk lebih mengawetkan, lebih luwes dan memudahkan pemanfaatan selanjutnya. Tahun 1989, usaha pengembangan produksi tepung ubi kayu oleh KUD didukung oleh Pemerintah dan BUMN. Misal di Wonogiri dibangun pabrik tepung ubi kayu oleh PT Daun Buah anak perusahaan PT Pupuk Kaltim. Di Gunung Kidul di 3 Kecamatan dibangun pabrik semacam dengan dukungan Program Banpres. Namun, usaha tersebut tidak berkembang karena harga tepungnya mendekati harga terigu. Bahkan kemudian mati sama sekali.

Cara pembuatan tepung ubi kayu pada saat itu meliputi tahap-tahap:
pengupasan, pencucian, perajangan (di beberapa tempat diikuti pengempaan untuk mengurangi kadar air), pengeringan, penggilingan dan pengayakan.

Cara pembuatan tepung ubi kayu kemudian dikembangkan oleh Dr. Achmad Subagyo dengan menambah tahap fermentasi rajangan dengan produknya disebut mocaf. Sejauh ini, informasi ilmiah tentang mocaf yang saya peroleh sangat terbatas. Apakah Prof. Subagyo bisa menjelaskan melalui media ini?

Beberapa perajin yang datang ke FTP UGM menceritakan cara pembuatannya melalui fermentasi dengan enzim yang terdiri atas bakteri dan lain-lain.
Bagaimana penjelasan tentang enzim terdiri atas bakteri dan lain-lain?

Pembuatan tepung ubi kayu sudah berkembang pesat di Nigeria yang memanfaatkan ubi kayu sebagai pangan pokok. Tepung kpor umilin dibuat dengan fermentasi kasava kupas yang terendam air selama 3-5 hari, penirisan, penghancuran, dan pengeringan dengan sinar matahari. Bila diperlukan dapat ditumbuk menjadi tepung (Inyang et al., 2006). Tepung
fufu dibuat dari kasava kupas, dipotong-potong, direndam selama 3-4 hari, ditiris, dihancurkan, diayak, dan kemudian dikeringkan (Chukwuemeka, 2007).
Pembuatan tepung cassava lafun telah dikembangkan dengan fermentasi kasava parut selama 3 hari dengan inokulum Corynobacterum manihot dan Geotricum candida. Setelah fermentasi, kasava parut dikempa dengan screw press untuk mengurangi kadar air, kemudian dikeringkan (Nwabueze dan Odunsi, 2007).
Pengembangan pembuatan tepung fufu meliputi tahap-tahap inokulasi dengan Lactobacillus plantarum, fermentasi 3-4 hari, penghancuran dan penyaringan, dekantasi, pengempaan, pengeringan, penggilingan dan pengayakan (Sobowale et al., 2007).

Dari cara-cara di Nigeria, di FTP UGM dikembangkan cara yang cepat dengan kapasitas setara 250kg ubi kupas/jam: pengupasan, pemarutan, penambahan sulfit, inkubasi 30 menit, filter press (45 menit), crushing, flash drying (5 menit), penggilingan dan pengayakan. Dalam keadaan mesin-mesin terangkai menjadi 1 line, proses total dari ubi kupas memerlukan 80 menit.

Dalam rangka Indonesia Industry Research Forum di Jakarta 30 November-1 Desember 2011 bersama-sama dengan hasil penelitian pengembangan lain-lainnya, inovasi produksi tepung ubi kayu dipamerkan dan ditawarkan
oleh LPPM UGM.

Semoga banyak bahan yang bisa didiskusikan pada media ini untuk perbaikan.

  1. Anonim, 2000. Rescue of Traditional and Under-utilized Species and Varieties for Quality Diets and Culinary Traditions. http://www.fao.org
  2. Avé, J. B., 1977. Sago in Insular South East Asia: Historical Aspects and Contemporary Use. In: Tan, K. (Ed.) Sago-76: Papers of The First International Sago Symposium “The Equatorial Swamp as Natural Sesource’, Kuching, 5-7 July, 1976.
  3. Chukwuemeka, O.C., 2007, “Effect of process modification on the physio-chemical and sensory quality of fufu-flour and dough”, African Journal of Biotechnology 6 (16) : 1949 – 1953.
  4. Gibbon, D. and Pain, A., 1985. Crops of the Drier Regions of the Tropics. Longman, London and New York.
  5. Inyang, C.U., Tsav-Wua, J.A. and Akpapunam, M.A., 2006, “Impact of traditional processing methods on some physicochemical and sensory qualities of fermented cassava flour “Kpor umilin”, African Journal of Biotechnology Vol. 5 (20) : pp.1985 – 1988.
  6. Nwabueze, T.U. and Odunsi, F.O., 2007, “Optimization of process conditions for cassava (Manihot esculenta) lafun production”, African Journal of Biotechnology Vol. 6 (5): pp.603-611.
  7. Rismunandar, L. W. dan Fraeyhoven, R. D., 1974. Sorgum Tanaman Serba Guna. NV Masa Baru. Bandung-Jakarta.
  8. Sobowale, A.O., Olurin, T.O. and Oyewole, O.B., 2007, “Efffect of lactic acid bacteria starter culture fermentation of cassava on chemical and sensory characteristics of fufu flour”, African Journal of Biotechnology Vol.6 (16): pp.1954-1958.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN SIFAT PENANGKAL RADIKAL BEBAS EKSTRAK BUNGA KECOMBRANG (Nicolaia speciosa Horan) METODE TEAC (Trolox Equivalent Antioxydant Capacity)

Diny A Sandrasari

Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Universitas Sahid Jakarta

Abstrak

Penggunaan antioksidan sintetis pada makanan cenderung dihindari karena alasan keamanan dan bersifat karsinogenik. Adanya kemungkinan ketidakamanan akibat penggunaan antioksidan sintetik ini, mengakibatkan penelitian tentang penggalian potensi antioksidan alami khususnya yang berasal dari tumbuhan terus mengalami peningkatan. Salah satu tumbuhan yang mempunyai potensi ini adalah bunga kecombrang. Fraksi antioksidan diekstrak menggunakan metanol. Ekstrak diuji potensial antioksidannya menggunakan metode DPPH (1.1-diphenil –2-picyhidrazil), ABTS dan TBA.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana aktivitas antioksidan dan sifat penangkal radikal bebas ekstrak bunga kecombrang yang diuji dengan metode TEAC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bunga kecombrang mempunyai aktivitas antioksidan yang cukup kuat namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan standar trolox yang digunakan

disampaikan pada seminar nasional Agroindustri 14 Agustus 2009 di Malang

Pati Ganyong Potensi Lokal yang Belum Termanfaatkan

sumber: http://www.kulinologi.biz/preview.php?view&id=264

Majalah Kulinologi Indonesia edisi Maret 2010

Oleh Nur Hidayat

Saatnya lebih memanfaatkan potensi lokal. Peluang besar menanti Anda. Jangan takut berinovasi!

Gandum sebagai bahan dasar tepung terigu bukanlah tanaman lokal Indonesia. Makanya, untuk memenuhi pasokannya kita masih harus mengimpor.
Ide untuk menggantikan, atau paling tidak mengurangi ketergantungan pada tepung terigu untuk produk-produk bakery sebenarnya sudah lama tercetus. Singkong dan ubijalar pernah dicoba. Sayangnya, singkong dan ubijalar ketika digunakan untuk membuat roti, memiliki kemampuan mengembang yang rendah sehingga dianggap tidak layak digunakan, meskipun kini telah berkembang tepung modifikasinya.

Belakangan muncul lagi pemain baru, yaitu tanaman ganyong. Ganyong merupakan tanaman semusim yang dibudidayakan masyarakat dengan cara yang sederhana. Di Malang misalnya, tanaman ganyong ditanam ketika memasuki musim penghujan dan setelah 7 – 10 bulan kemudian dilakukan pemanenan. Selama penanaman tidak dilakukan pemupukan. Produksi umbi ganyong dapat mencapai 2,5 -2,84 kg/ tanaman. Satu hektar lahan bisa menghasilkan umbi kurang lebih 30 ton.

Tepung ganyong sangat mudah dicerna sehingga bisa dipakai untuk makanan bayi, dimanfaatkan untuk bahan kue ataupun makanan pokok. Tepung pati ganyong memiliki karakteristik yang cukup baik untuk dikembangkan dalam industri bakery.

Ganyong memiliki tekstur dan rasa mirip ubijalar. Hanya, kelemahan ganyong jika dikonsumsi langsung adalah banyaknya kandungan serat di dalamnya, sedang bentuk patinya akan membentuk gel ketika dimasak. Masyarakat demikian, beberapa uji coba sudah membuktikan bahwa untuk produksi cookies, tepung ganyong dapat diandalkan sebagai pengganti tepung terigu, hingga 100%. Pada pembuatan cookies, jumlah pati ganyong yang diperlukan bahkan hanya 1/3 dari jumlah terigu yang biasa dipakai. Pembuatan kue dapat dilakukan dengan 100% pati ganyong, misalnya pada kue ganyong pandan dan kue ulat sutera. Sedangkan dalam pembuatan biskuit dapat dilakukan dengan mencampur 50% tepung atau pati ganyong dan 50% tepung terigu. Pada pembuatan kue sus, tepung atau pati ganyong dapat digunakan untuk membuat kulitnya dengan umumnya mengkonsumsi bentuk gel ini bersama dengan larutan gula encer dicampur jahe dan dikonsumsi untuk menghangatkan badan di suhu yang dingin.

Tepung ganyong selama ini oleh petani dijual langsung ke tengkulak karena ketidaktahuan mereka mengenai pemanfatannya. Tengkulak umumnya menyetor tepung ganyong ke produsen soun karena sifat gelatinisasinya yang bagus.

Penelitian-penelitian tentang pemanfaatan tepung ganyong menjadi produk roti belum banyak dilakukan sehingga tidak diketahui aplikasinya. Namun demikian, beberapa uji coba sudah membuktikan bahwa untuk produksi cookies, tepung ganyong dapat diandalkan sebagai pengganti tepung terigu, hingga 100%. Pada pembuatan cookies, jumlah pati ganyong yang diperlukan bahkan hanya 1/3 dari jumlah terigu yang biasa dipakai. Pembuatan kue dapat dilakukan dengan 100% pati ganyong, misalnya pada kue ganyong pandan dan kue ulat sutera. Sedangkan dalam pembuatan biskuit dapat dilakukan dengan mencampur 50% tepung atau pati ganyong dan 50% tepung terigu. Pada pembuatan kue sus, tepung atau pati ganyong dapat digunakan untuk membuat kulitnya dengan jumlah separuh dari tepung terigu.

Kajian tentang sifat-sifat fisiko kimia menunjukkan bahwa pati ganyong memiliki potensi yang bagus untuk produk bakery karena memiliki viskositas yang tinggi, gel yang kuat dan tinggi kandungan fosfornya. Produk bakery yang dibuat dari pati ganyong lebih cerah, lebih crispy dan lebih berasa dibandingkan yang dibuat dari gandum. Kelebihan ganyong dibandingkan dengan gandum adalah ganyong bebas gluten. Gluten merupakan salah satu substansi allergen yang banyak dijumpai di tepung terutama gandum.

Modifikasi tepung ganyong
Potensi ganyong di Indonesia cukup tinggi. Kini banyak daerah yang mengembangkan ganyong karena mudahnya cara budidaya. Sentra yang kini dikembangkan untuk ganyong mencakup Jawa Tengah (Klaten, Wonosobo, dan Purworejo), Jawa Timur (Malang dan Pasuruan), Daerah Istimewa Yogyakarta, Jambi, Lampung, dan Jawa Barat (Majalengka, Sumedang, Ciamis, Cianjur, Garut, Lebak, Subang, dan Karawang). Daerah Papua sebenarnya merupakan daerah yang potensial untuk produksi ganyong,

Pati alami dapat diperbaiki sifat-sifatnya agar sesuai dengan harapan, melalui modifikasi pati. Di Indonesia produk pati modifikasi yang sudah dikenal adalah MOCAF (MOCAL) dari singkong melalui fermentasi menggunakan bakteri asam laktat. Pada dasarnya terdapat beberapa tipe modifikasi, diantaranya adalah secara fisik, kimia dan enzimatis. Contoh proses modifikasi adalah oksidasi, benzilasi, etoksilasi, dan karboksimetilasi. Karboksimetilasi umumnya menggunakan sodium monochloroacetate (SMCA) dan dihasilkan produk carboxymethyl starch (CMS).

Pati ganyong termodifikasi ini memiliki sifat yang beda dengan yang bentuk alaminya, yaitu mudah larut dalam air dingin, sehingga cocok untuk berbagai keperluan seperti pembuatan kertas, tekstil, absorben, farmasi dan medis. Untuk keperluan produk bakery pati ganyong modifikasi belum diuji coba. Seperti halnya aplikasi singkong dan ubijalar, pemanfatan pati ganyong dalam pembuatan kue memang perlu disosialisasikan lebih terpadu. Pengenalan jenis-jenis olahan pati ganyong akan sangat mendukung petani untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Pelatihan pembuatan produk bakery langsung ke petani atau ibu rumah tangga mestinya secara intensif dilakukan agar masyarakat terbiasa dan menyukai produk bakery dari bahan lokal.

Kreativitas masyarakat dalam mengembangkan produk dan kemampuan marketing yang baik akan meningkatkan rasa cinta terhadap produk bakery dari bahan lokal.

Nur Hidayat Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang.