Substrat nata

Nur Hidayat.

Siapa tidak kenal nata? Produk ini bukan asli Indonesia namun seakan sudah menjadi produk local. Nata merupakan selulosa yang dihasilkan oleh bakteri Acetobacter xylinum. Selulosa ini akan menjerap air sehingga menjadikan produk nata kenyal. Nata kini juga ada yang diolah menjadi tepung dan digunakan untuk memodifikasi tekstur surimi. Produk ini juga dapat digunakan untuk membuat kertas dan sebagainya.

Substrat yang digunakan dalam produksi nata cukup beragam mulai dari air kelapa, jus tomat, jus, nenas, limbah nenas, limbah cair tapioca, limbah cair tahu dan sebagainya. Seringkali substrat dan kondisi fermentasi akan mempengaruhi tekstur nata yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air nata relative sama untuk semua bahan yang digunakan. Namun demikian, perebusan hingga perendaman dalam sirup mempengaruhi kadar airnya. Perebusan dalam larutan gula akan menurunkan kadar air. Secara umum kandungan nata adalah air sebanyak 99 % sisanya adalah selulosa dan sel bakteri.

Yang seringkali lepas dari perhatian adalah keberadaan ion logam untuk produksi nata. Ion Magnesiun penting untuk sintesis selulosa karena produksi selulosa diaktivasi oleh guanyl oligonicleotida. Ion kalsium dapat menghambat kerja enzim fosfodiesterase.

Bakteri Acetobacter xylinum  dapat disimpan pada agar miring dengan larutan berbagai bahan yang ditambah glukosa 20 g, ekstrak khamir 5 g, pepton 5 g dan K2HPO4 2,7 g per liternya. pH diatur sekitar 4,0 – 4,5 menggunakan asam asetat. Sediaan ini diperlukan untuk sediaan inokulum

.

Pustaka

Jagannath, S.S. Manjunatha, N. Ravi And P.S. Raju. The Effect Of Different Substrates And Processing Conditions On The Textural Characteristics Of Bacterial Cellulose (Nata) Produced By Acetobacter Xylinum. Journal Of Food Process Engineering 34 (2011) 593–608

Iklan

Acetobacter xylinum dan Nata

A, xylinum secara luas tersebar di alam dan umumnya merupakan kontaminan dalam industri vinegar menggunakan A.aceti. A. xylinum dapat diisolasi dari buah yang busuk, sayuran dan air kelapa yang terfermentasi. Banyak strain A. xylinum yang mampu menghasilkan selulosa dengan berbagai sumber gula seperti glukosa, sukrosa, fruktosa, gula invert, etanol dan gliserol. Produksi selulosa oleh A. xylinum dapat dilakukan pda kondisi kultur statis ataupun teragitasi. A. xylinum mampu tumbuh pada pH sekitar 3,5 meskipun umumnya perkembangan selulosa terjadi [ada pH 4,0 – 5,0.
Pemeliharaan A. xylinum
Acetobacter xylinum biasanya dipelihara dalam gara miring tomat agar. Tomat segar sebanayk 200 g direbus dalam aquades sebanyak 500 ml selama 30 menit. Hasil yang diperoleh kemudian disaring dan dicampur dengan 1g ekstrak khamir, 50 g sukrosa, 2,5 g pepton dan 20 g agar. Volume kemudian dibuat menjadi 1000 ml dengan menamahkan air dan disterilkan pada 121 C selama 15 menit. A. xylinum ditumbuhkan dengan cara digoreskan pada agar miring dan diinkubasi pada 30 C selama 4 hari.
Pembuatan starter nata
Acetobacter xylinum yang telah tumbuh pada agar miring diinokulasikan pada medium steril yang dalam tiap liternya mengandung glukosa 20 g ekstrak khamir 5 g, pepton 5 g dan K2HPO4 2,7 g. pH diatur menjadi 4,2 menggunakan asam asetat. Inkubasi dilakukan secara stratis selama 7 hari pada suhu 30 C.
Medium Air kelapa
Air kelapa yang telah direbus selama 3 menit ditambah ammonium sulfat 0,5 % dan sukrosa 10% denga pH diatur menjadi 4,2 menggunakan asam asetat glacial. Tambahkan starter nata 20%, wadah kemudian ditutup dengan kain saring dan inkubasi selama 15 – 20 hari.
Pemanenan Nata
Lembaran nata yang terbentuk diambil dan dicuci berulang untuk menghilangkan asam asetatnya dan dipotong menjadi berbentuk kubus. Potongan kubus direndam dalam air selama 24 jam dengan secara berkala menggati airnya sampai hilang bau asamnya. Dan siap dicampur atau dikonsumsi dengan ebrbagai cara pengolahan.