Asam Benzoat

Nur Hidayat

Benzoat dalam bentuk asam maupun garamnya banyak digunakan oleh masyarakat untuk mengawetkan makanan dan minuman. Hal ini disebabkan kemampuan dari benzoate untuk menghambat pertumbuhan bakteri, khamir dan jamur pada media asam. Benzoat juga digunakan pada produk-produk farmasi dan kosmetika. Akibatnya benzoate ini dapat dijumpai dengan mudah di lingkungan seperti udara, air dan tanah. Beberapa produk yang mestinya tidak  diperkenankan menggunakan benzoate seperti susu, keju yogurt dan sejenisnya, kini mulai terdeteksi penggunaannya saat dilakukan sampling.

Meskipun asam benzoate relative aman digunakan, namun mengkonsumsi benzoate secaralam waktu pendek dapat mengakibatkan iritasi pada mata, kulit dan saluran pernapasan sedangkan dalam waktu lama dapat  menyebabkan sensitifitas kulit meningkat. Asam benzoate atau bentuk garammnya juga dapat menyebabkan alergi semu, asma, metabolikasidosis, kejang dan sebagainya. Toksisitas benzoate ditunjukkan pada dosis tinggi yang akan mengganggu metabolism termasuk siklus urea, glukogenesis, metabolism asam lemak dan siklus TCA. Konsumsi yg diperbolehkan maksimum 5 mg per kg berat badan. Hasil penelitian di Cina menunjukkan bahwa susu pasteurisasi mengandung 0,2 mg/kg dan susu bubuk mengandung  2 mg/kg.

Meskipun benzoate diketahui memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri namun beberapa bakteri tanah dapat memetabolisme benzoate. Vibrio merupakan salah bakteri yang mampu tumbuh pada media dengan asam benzoate sebagai satu-satunya sumber karbon. Selama pertumbuhan akan dihasilkan benzoquinone.

Beberapa khamir seperti  Saccharomyces, Hansenulla, Candida, Zygosaccharomyces menunjukkan resistensi terhadap benzoate. Ada suatu hal yang menarik dalam khamir yaitu adanya benzoate dapat memacu fermentasi dalam sel. Laju ini meningkat lebih tinggi pada spesies yang rentan daripada spesies yang resisten.

Daftar Pustaka

ALAN D. WARTH. Effect of Benzoic Acid on Growth Yield of Yeasts Differing in TheirResistance to Preservatives. Appl. Environ. Microbiol. 54 (1988). 2091-2095

 

Ping qi, Hong Hong, Xiaoyan Liang, and Donghao Liu. Assessment of benzoic acid levels in milk in China. Food Control 20 (2009) 414–418

W. C. EVANS. Oxidation of Phenol and Benzoic Acid by Some Soil Bacteria. Biochem J, 41 (1947): 373 – 382.

Kasih Ibu

Seorang gadis berkata pada ibunya:
” Ibu, ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin seperti ibu, beritahulah aku caranya.”
Dengan tatapan lembut & senyum haru, sang ibu menjawab:
“Untuk bibir yang menarik, ucapkanlah perkataan yang baik”
“Untuk pipi yang lesung, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapapun…”
“Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain…”
“Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan untuk fakir miskin…”
“Untuk jemari tangan yang lentik menawan, hitunglah kebajikan yang telah diperbuat orang kepadamu…”
“Untuk wajah putih bercahaya, bersihkanlah kekotoran batin…
”Anakku..Janganlah sombong akan kecantikan fisik karena itu akan pudar oleh waktu. Kecantikan perilaku tidak akan pudar walau oleh kematian..
~Jika kamu BENAR, maka kamu tidak perlu marah.
~Jika kamu SALAH, maka kamu wajib minta maaf.
~Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH.
~Kesabaran dengan orang lain adalah HORMAT.
~Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN.
~Kesabaran dengan TUHAN adalah IMAN.
~Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena hal itu akan membawa AIR MATA.
~Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena hal itu akan membawa KETAKUTAN.
~Jalankan saat ini dengan senyuman, karena hal itu akan membawa KECERIAAN!
~Setiap ujian dalam hidup ini bisa membuat kamu pedih atau lebih baik.
~Setiap masalah yang timbul bisa menguatkan atau menghancurkan.
~Pilihan ada padamu, apakah kamu akan memilih menjadi korban atau pemenang.
~Carilah hati yang indah dan bukan wajah yang cantik.
~Hal-hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal-hal yang baik akan selalu indah ….
From Dyah Retnowati

Pro Kontra mengkonsumsi Susu Sapi

Untuk menambah daftar panjang hal negatif tentang susu dapat pula dibaca: ” Foods that are Killing You, Slowly but Steadily” (M.A. Gupta, 2004). Dalam buku itu, susu termasuk didalamnya.

Tetapi, menurut saya begini: (rekan-rekan boleh tidak setuju):

Pertama, susu berlebihan jika hanya diperuntukkan bagi anak sapi. Seekor induk sapi perah dapat menghasilkan susu lebih dari 7x bobot badannya. Induk sapi perah dengan bobot 400 kg dapat menghasilkan susu sekitar 3 ton dalam 1 periode laktasi. Ini jika produksi susunya rata-rata 10 liter per hari dengan periode laktasi 10 bulan. Sapi di Amerika & New Zealand produksinya bisa lebih dari 15 lt per hari. Seekor anak sapi hanya mengkonsumsi separoh atau kurang dari susu tsb. Pada awal kelahiran, konsumsi susu anak sapi memang relatif banyak, tetapi berangsur menurun sejalan dengan bertambahnya umur. Berdasarkan fisiologi alat pencernaannya, semakin dewasa anak sapi, maka selain lambungm rumennya juga berkembang. Konsekuensinya, jenis pakan yang diperlukan adalah rumput/ hijauan (banyak serat kasar) dan konsentrat. Artinya, minum susu dari induknya semakin sedikit. Nah, sisa susu yang hampir 1,5 ton di kemanakan?.

Kedua, susu layak sebagai bahan makanan. Zat gizi susu relatif lengkap dan proporsional, banyak mirip dengan ASI, atau hampir sebansing dengan bahan makanan tertentu yang lain. Keunggulan zat gizi dan peranan spesifik beberapa nutrisi susu bagi kesehatan telah banyak diungkapkan. Jadi, seperti halnya bahan makanan yang lain, susu layak dikonsumsi oleh balita (pasca ASI), anak-anak, remaja dan orang dewasa. Kalaupun susu dianggap ada kekurangannya (seperti beberapa makanan yang lain) itu tentunya wajar saja. Ada yang mengatakan, susu dalam bentuk cair tidak dapat dicerna di mulut dan memberatkan proses pencernaan di lambung dan usus. Ingat bahwa hanya sedikit bahan makanan yang dicerna dimulut, karena disini yang paling berperan enzim amilase. Protein susu akan dicerna di Lambung dan usus halus, sedangkan karbohidrat susu (laktosa) akan dicerna di usus halus. Sebagian kecil orang kadang mengalami masalah pencernaan laktosa (lactise intokerance), tetapi banyak orang tidak mengalami masalah. Ada sebagiam orang alergi terhadap susu (mungkin laktoglobulin dari protein whey susu), tetapi banyak juga yang tidak. Dalam kasus ini mirip kasus alergi yang dialami beberapa orang yang mengkonsumsi kuning telur, serealia tertentu, udang dan hasil laut.

Ketiga, susu dianggap sumber lemak dan kolesterol yang menbahayakan. Orang barat memang merekomendasikan mengurangi konsumsi hasil hewanim karena sudah over nutrisi. Sementara masyarakat kita masih banyak yang kekurangan. Konsumsi susu orang Amerika sekitar 90 kg/kap/th, sedangkan kita baru 7,8 kg/kap/hr. Tetangga kita Filipina 18,8; Malaysia 22,5; Thailand 28 dan Singapura 32 kg/kap/hr. Nah, baru bisa minum sedikit koq sudah akan diminta berhenti mikum. Kasihan dong. Kasihan juga para peternak sapi perah kita.

Keempat, last but not least, di Al-Qur’an surat An-Nahl 66, Alloh Swt menganjurkan manusia minum susu. Nah, kelebiahan susu tsb diatas berarti diciptakan untuk manusia. Betul ya?

Begitu, Tks.

Wassalam,

Anang M. Legowo (PATPI Semarang)

Sapi didikan Kapitalis?

Suatu saat saya pernah melihat pameran pertanian di Australia. Menurut pengamatan saya, sapi2 Australia itu telah dibreeding sedemikian rupa sehingga sangat besaaaar kalau dibandingkan dengan sapi2 yang saya lihat di dekat rumah saya di Jogja dulu. Namun demikian, wajah sapi2 ini terlihat sedih, dibandingkan rekan2 sejawatnya di tanah air.

Dari forum diskusi organik, lingkungan, kelompok penyayang binatang dan sejenisnya, saya ketahui bahwa sebagian besar sapi dan hewan2 ternak di Australia dipelihara dalam kondisi yang menyedihkan. Kandangnya pas badan, sehingga konversi energi dari pakan menjadi daging atau susu bisa maksimal. Mereka juga diberi hormon agar cepat besar, dan produksi daging, susu, dan telurnya maksimal. Sisi baiknya, memang harga susu, telur dan daging di Australia itu murah sekali. Anak2 Australia menjadi tinggi, besar, dan jarang ada yang OON karena kekurangan protein.

Namun kemudian muncul issue2 soal allergi, obesitas, dan kecurigaan terhadap susu sebagai pemicu kanker.

Pertanyaan saya, apakah memang sapi yang dipelihara dengan pakan yang berlebihan, jarang punya kesempatan jalan2 melihat indahnya dunia, distimulir dengan hormon pendorong laktasi, dan diperah dengan mesin itu tubuhnya akan memberontak dan menghasilkan trace element yang berbahaya bagi manusia?

Saya juga teringat dengan peternakan sapi di pertapaan Rawaseneng yang sering saya kunjungi jaman dahulu kala, ketika masih sekolah. Sapi2 di sana dipelihara dengan penuh cinta kasih… karena tujuannya memang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup para pertapa dan anak2 yatim piatu yang ada disitu. Sesuai pilihan ideologi yang dianutnya, hidup dalam doa, kasih, dan kesederhanaan, di pertapaan Rawaseneng, memang tidak ada aura keserakahan untuk menjadi kaya-raya sama sekali.

Sapi-sapi Rawasenang berkesempatan menikmati udara segar dan pemandangan yang indah di pegunungan. Makan makanan alami. Tidak diberi obat2an. Kalau sakit cukup diberi jamu2an herbal. Mereka diperah secara manual dengan tangan yang terampil… plus doa sebelum dan setelah memerah susu. Setiap hari mereka mendengar lagu puji-pujian kepada Tuhan dari para pertapa, baik dalam langgam Gregorian maupun Jawa klasik. Sapi-sapi ini juga nyaris tidak pernah mendengar bentakan, omelan maupun gosip karena technically, pertapa memang tidak boleh berkata-kata selain untuk berdoa. Hasilnya? Susu segar terlezat yang pernah saya minum! Kental, dan gurih, tetapi tidak menimbulkan eneg.

Memang di sana disamping sapi lokal, di sana ada turunan sapi Holland, yang nenek moyangnya memang diseleksi untuk menghasilkan susu. Dan beberapa tahun yang lalu, saya pernah mendengar bahwa jenis2 musik yang berbeda akan mempengaruhi volume susu yang dihasilkan. Di Indonesia sendiri, ibu menyusui disarankan untuk tidak bersedih hati, agar produksi ASI tidak terganggu.

Saya tidak tahu, apakah cara budidaya sapi ala ‘kapitalisme’ dan ala ‘surgawi’ ini memang berpengaruh terhadap volume dan kualitas susu yang dihasilkan?

Terimakasih banyak Pak Anang.

Salam,

daisy (Anggota PATPI di Australia)