Bacillus anthracis

Harian Kompas tgl 1 Juni 2015 memberitakan tentang ketaksengajaan Militer Amerika Serikat mengirimkan spora antrax aktif ke sejumlah laboratorium. Bacillus anthracis merupakan penyebab penyakit antrax yang tangguh. Pada binatang yang terkena antrax ditandai dengan pendarahan pada lubang seperti hidung dan mulut, hewan lesu dan pembengkakan limpa di kiri atas perut. Pada manusia penularan dapat lewat tiga jalan yaitu terpapar pada kulit, terhirup dan tertelan. Kontak kulit dapat dengan hewan yang sakit atau produk bulu (wol) dan kulit hewan yang terkontaminasi.
Antrax pada kulit menimbulkan gatal, diikuti lesi yang berubah menjadi papulair kemudian vesikulair, selama 2-6 hari berubah jadi jaringan parut hitam (koreng). JIka tidak segera diobat infeksi dapat menjalar ke limfa hingga kelenjar otak.
Bacillus anthracis bernetuk batang, Gram positif, berkapsul mampu membentuk spora dan banyak terdapat di tanah. Bakteri ini tahan terhadap disinfektan. Bakteri ini ada hubungan dengan B. cereus yang merupakan agensia “foodborne poisoning”. Keduanya dibedakan oleh adanya dua plasmid virulens yang ada pada B. anthracis. Bakteri ini tahan terhadap panas sehingga seringkali menjadi masalah dalam industry pangan. Pada pembuatan keju dan yogurt yang diinokulasi dengan B. anthracis menunjukkan bahwa bakteri ini juga tahan terhadap proses fermentasi keju dan yogurt.
Sumber:
Anonim. 2015. Antraks Kepaspadaan Tak Hanya Saat Celaka. Harian Kompas, 1 Juni 2015. Halaman 14.
Katja Mertens, Oda Schneider, Gernot Schmoock, Falk Melzer, Mandy C. Elschner. 2015. Fate of Bacillus anthracis during production of laboratory-scale cream cheese and homemade-style yoghurt. Food Microbiology 46: 336 – 341.

Iklan

Yogurt goreng?

Seperti sudah kita ketahui bahwa BAL yg terlibat dalam yogurt adalah L. bulgaricus dan S. thermophilus. Menurut hasil penelitian bahwa kedua jenis BAL ini tidak mampu tumbuh dan berkembang biak dalam saluran pencernaan manusia. OKI BAL ini tidak dikategorikan sebagai probiotik (mikroorganisme hidup yg bila dikonsumsi akan meningkatkan kesehatan dan kebugaran host). Walaupun demikian dari berbagai riset ditemukan berbagai efek terapeutik dari yogurt bisa karena aktivitas BALnya atau senyawa metabolit yang dihasilkan selama proses fermentasi atau kandungan susu itu sendiri misalnya Kalsium. Dengan demikian yogurt yg sudah mengalami proses pemanasan (pasteurisasi, sterilisasi, penggorengan) masih ada bisa untuk memberikan efek terapeutiknya dalam jumlah terbatas misalnya kemampuan sel BAL yg sudah mati untuk mengikat senyawa-senyawa mutagen/karsinogen dan kolesterol. Namun demikian yogurt (tanpa pemanasan) mempunyai efek terapeutik yg lebih bagus dibanding yogurt yang sudah diberi perlakuan panas. Lebih bagus lagi bila yogurt tersebut dibuat menggunakan starter L. bulgaricus dan S. thermophilus plus penambahan probiotik misalnya L. acidophilus, L. gasseri, L. casei, Bifidobacterium sp dll. dan dikonsumsi tanpa perlakuan panas.

Demikian dan semoga bermanfaat.

Wassalam

Usman Pato (Prof Pangan dan dekan FP UNRI)

Yogurt

Pengarang : Deddy Nanda S

sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1761437-yogurt/

Yoghurt atau yogurt adalah dairy product yang dihasilkan melalui fermentasi bakteri pada susu. Berbagai jenis susu dapat digunakan untuk membuat yoghurt, tapi produksi yoghurt yang modern kini didominasi oleh susu sapi. Pembuatan yoghurt merupakan proses fermentasi dari gula susu (laktosa) menjadi asam laktat yang menyebabkan tekstur yoghurt menjadi kental. Biasanya yaghurt dijual dengan rasa buah, vanila, atau coklat, tapi ada juga tanpa penambahan rasa (plain).
Yoghurt dibuat dengan menambahkan bakteri yang menguntungkan ke dalam susu yang tidak dipasteurisasi (untuk mengatur keseimbangan antara bakteri dan enzim dari susu) pada suhu dan kondisi lingkungan yang dikontrol. Bakteri akan mengolah gula susu alami menjadi asam laktat. Hal itu akan meningkatkan keasaman sehingga menyebabkan protein susu menyusut menjadi masa yang padat atau kental. Peningkatan keasaman (pH 4-5) juga mencegah proliferasi (perbanyakan sel) dari bakteri patogen lainnya. Umumnya kultur yoghurt melibatkan dua atau lebih bakteri yang berbeda untuk proses fermentasi, biasanya yaitu Streptococcus salivarius dan thermophilus dan genus Lactobacillus, seperti L.acidophilus, bulgaricus, casei dan bifidus.
Karena kultur yoghurt mengandung enzim-enzim yang dapat memecah laktosa, beberapa individu yang menderita lactose intolerant dapat menikmati yoghurt tanpa efek yang merugikan. Secara nutrisi, yoghurt memang kaya akan protein dan beberapa vitamin B serta mineral penting lainnya.
Yoghurt umumnya dijual dengan penambahan kemanisan dan rasa, atau dengan penambahan buah untuk menambah rasa alaminya. Produk yoghurt di AS umumnya ditambahkan dengan pektin dan gelatin.

Ada beberapa jenis yoghurt, yaitu: Dahi yoghurt : berasal dari India Bulgarian yoghurt : menggunakan kultur strain dari Bulgaria, yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus Greek yoghurt : dibuat dari susu yang telah dicampur dengan krim sehingga kandungan lemaknya menjadi 10%. Bentuk lainnya bisa dalam bentuk standar (5%), rendah lemak atau low fat (2 %), dan tanpa lemak atau non fat (0 %). Biasanya disajikan bersama dengan madu, walnut, atau buah yang disediakan sebagai pencuci mulut Lassi yoghurt : minuman dengan bahan dasar yoghurt. Berasal dari India dengan dua jenis rasa, yaitu rasa asin dan manis Kefir : minuman susu fermentasi. Kini biasanya dinamakan yoghurt siap minum atau yoghurt smoothie Home-made yoghurt : dapat dibuat dirumah dengan menggunakan sejumlah kecil kultur yoghurt aktif sebagai kultur awal. Yoghurt akan menjadi kental atau memadat jika disimpan dalam refrigerator. Yoghurt yang disimpan dalam refrigerator akan stabil atau tahan sampai satu minggu atau lebih.